HOME
Home » Blog » Pengamat Media: Sertifikasi Medsos Berangus Kebebasan Berpendapat

Pengamat Media: Sertifikasi Medsos Berangus Kebebasan Berpendapat

Posted at March 28th, 2017 | Categorised in Blog

Media Sosial
Wacana Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk melakukan sertifikasi digital bagi pengguna media sosial, mengejutkan banyak pihak.

Pengamat Komunikasi dan Media Yons Achmad menilai sertifikasi digital (media sosial) harus ditolak. Alasannya karena, bisa memberangus kebebasan berpendapat.

“Publik tidak lagi leluasa dalam menyampaikan gagasan, pandangan terutama terkait dengan politik dan kekuasaan,” kata Yons kepada voa-islam.com, Jakarta, Kamis (23/2/2017).

Yons menegaskan bahwa sertifikasi medsos adalah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah melalui kaki tangannya, yaitu Kemkominfo.

“Saya kira, sertifikasi medsos muncul karena derasnya kritik kepada Pemerintah. Tujuannya hanya untuk meredam suara kritis dari masyarakat. Terutama aktivis Islam pro-perubahan. Pemerintah panik dan ketakutan. Munculah sertifikasi medsos,”jelasnya.

Menurut Yons, alasan sertifikasi medsos untuk meredam hoax sangat tidak tepat. Sebab, hoax sudah ada sejak jaman Belanda, kemudian menyusul di zaman Jepang.

“Era Belanda misalnya dikabarkan Bung Hatta mendukung Pemerintahan Kolonial, padahal itu tidak benar. Zaman penjajahan Jepang misalnya, selalu mengabarkan lewat media bahwa Jepang menang perang padahal kenyatannya banyak mengalami kekalahan,” ucapnya.

Lanjut Yons, kalaupun benar ada hoax, solusinya bukan dari pemerintah. Tapi, dari inisiatif publik. “Dengan apa? Tak lain dan tak bukan dengan literasi digital. Literasi sosial media (sos med). Artinya apa? Ada semacam gerakan di dunia maya untuk meredam hoax yang benar-benar hoax,” katanya.

“Bukan hanya hoax versi pemerintah. Misalnya pemerintah anggap serbuan TKI ilegal China ke Indonesia hoax. Padahal itu bukan hoax. Itu fakta. Walaupun kalau soal berapa jumlahnya. Itu bisa diperdebatkan lagi,” sambungnya.

Sekali lagi, Yons menduga, cara yang paling efektif meredam hoax ya dengan inisiatif publik Masyarakat. Melalui literasi digital (medsos), dengan cara membentuk sebuah komunitas.

“Katakanlah misalnya “Komunitas Melek Sosial Media” yang bertujuan mengedukasi publik bagaimana bisa cerdas dan kritis dalam bermedia sosial dan tahu betul mana kabar yang bohong. Mana kabar yang benar (valid),” pungkasnya. * [Bilal/Syaf/voa-islam.com] –

Sumber: Voa-Islam.com 25 Februari 2017.

1 Comment for Pengamat Media: Sertifikasi Medsos Berangus Kebebasan Berpendapat

  • Uskendaidi Titus says:

    Media mainstream seperti Metro TV yang jelas2 beritanya tidak berimbang, dipiara, dielus2 …
    Karena membabi buta memihak PENGUASA dan PENGUSAHA, sambil mendepak, menendang dan memfitnah Umat Islam dengan banyolan2 kotor lewat diskusi yang sangat vulgar !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Pengamat Media: Sertifikasi Medsos Berangus Kebebasan Berpendapat

Konsultan Media di Jakarta

Posted at July 7, 2017

Bagi Anda yang sedang mencari jasa konsultan media, khususnya di Jakarta, tidak salah lagi. Kami, Kanet Indonesia, adalah partner yang tepat bagi Anda. Kami... Read More

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | FounderĀ  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan AhokĀ  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More


tesssssss