HOME
Home » Blog » Praktik Jurnalisme Subyektif

Praktik Jurnalisme Subyektif

Posted at February 22nd, 2017 | Categorised in Blog

Jurnalisme Subyektif
Praktik Jurnalisme Subyektif
:Yons Achmad*

Di dalam teori jurnalisme klasik, berita adalah rangkaian fakta-fakta. Berita tidak boleh bercampur dengan opini. Itu sebabnya, lahirlah apa yang dinamakan jurnalisme obyektif. Jurnalisme yang harus berpijak kepada prosedur baku peliputan berita. Pertanyaan yang mengusik kemudian, bagaimana jurnalis menentukan sikap dalam pemberitaan? Terutama dalam soal moral yang menyangkut hati nurani. Terkait dengan pertanyaan demikian, lahirlah wacana jurnalisme subyektif sebagai jawaban.

Lantas, bagaimana kerja jurnalisme subjektif? Sebagai wacana barangkali menarik untuk bahan kajian. Tapi, apakah jurnalisme subyektif memungkinkan untuk dipraktikkan? Ini yang kemudian lebih menarik untuk diperdebatkan. Sebuah buku yang berjudul “Jurnalisme Subyektif” (2015) karangan Dr. Edi Santoso hadir mewarnai khazanah wacana dunia media. Sebuah buku menarik untuk kita kupas tuntas karena masih relevan sebagai bahan perbincangan hari ini.

Penulis secara terang-terangan melakukan kritik terhadap gagasan jurnalisme obyektif. Salah satu diantaranya, obyektifitas seringkali dijadikan sebuah selubung atas kebohongan terhadap publik. Misalnya jurnalis seolah-olah terbebas dari dosa setelah mematuhi kaidah pemberitaan berimbang, meliput dua pihak yang bertikai tanpa memedulikan kebenaran dari fakta yang disampaikan pihak-pihak tersebut. Jurnalis seolah lari dari tanggungjawab atas kebenaran fakta peristiwa, dengan dalih biarkan khalayak sendiri yang memaknai (hal 13).

Sebagai alternatif gagasan jurnalisme obyektif, kemudian munculah jurnalisme subyektif atau intrepretatif. Buku ini merupakan elaborasi (penjelasan secara detail) jurnalisme subyektif. Tak hanya sebatas wacana, diantaranya menjelaskan bagaimana jurnalis tak semata-mata menyajikan fakta tetapi juga memaknai jalinan peristiwa, melihat keterkaitan antar fakta dan kemudian berbagi pandangan dengan khalayak. Tetapi juga menjelaskan praktik jurnalisme subyektif yang mengambil Majalah Tarbawi sebagai studi kasus.

Sebelum melangkah lebih jauh, jurnalisme subyektif ini saya kira juga tidak bebas nilai. Bahkan bisa dipahami secara keliru oleh sebagian wartawan dan pengelola media. Terutama bagi yang berpandangan bahwa tidak ada media yang independen. Sampai sering mengatakan, cari ke ujung dunia, tidak pernah ada media yang independen. Akhirnya, terjebak juga kepada keberpihakan. Terutama keberpihakan politik yang kemudian menjadikan medianya sekadar “medium” alias corong kepentingan politik atau kelompok tertentu. Singkat cerita, menjadi media propaganda.

Jurnalisme subyektif meluruskan pandangan itu. Keberpihakan yang dimaksudkan di sini, bukan apa yang disebut dengan keberpihakan secara politik apalagi sekadar politik praktis sesaat. Tetapi keberpihakan kepada kemanusiaan.

Di dalam jurnalisme obyektif memang aspek human interest merupakan salah satu nilai berita yang penting. Persoalannya memang bukan sekadar menyajikan berita dalam tulisan yang memikat, juga bagaimana melakukan reportase yang baik diantaranya berempati dengan kondisi kejiwaan korban yang labil dan tidak menambah rasa sakit korban. Keberpihakan kepada kemanusian, bukan keberpihakan secara politik (praktis), inilah semangat buku ini.

Praktik jurnalisme subyektif ini pernah berhasil dilakukan. Diantaranya lewat Majalah Tarbawi sebagai studi kasus dalam kajian ini, begitu juga penulis buku ini sekaligus duduk sebagai salah satu pimpinan dalam keredaksian. Majalah Tarbawi sendiri terbit pada tahun 1998 ketika terjadi kegalauan politik yang mengakibatkan kejenuhan dan kekenyangan informasi sekitar dunia politik. Karena itu, beberapa aktivis pers Islam menilai perlunya sudut pandang baru dalam memahami realitas (hal 75).

Singkat cerita, mereka mempraktikkan jurnalisme subyektif. Kebijakan redaksional Majalah Tarbawi mengambil tiga prinsip yaitu jurnalisme nurani dalam arti pemberitaan majalah Tarbawi berdasarkan kejujuran nurani, jurnalisme damai sebagai perbaikan secara kultural (cultural approach) melalui media dan jurnalisme argumentatif yang merujuk misi pencerdasan. Hasilnya, dari terbit pertama 2000 eksemplar sampai mencapai oplah 40.000 eksemplar. Artinya, Majalah ini pernah begitu diminati pembaca. Sayangnya, entah karena persoalan apa, Majalah Tarbawi sekarang telah berhenti terbit.

Dari buku ini, saya kira praktik jurnalisme subyektif memang bukan sebatas wacana, tapi bisa juga dipraktikkan. Majalah Tarbawi sudah membuktikan bahwa semua itu bisa. Masalahnya sekarang, apakah di era media online sekarang ini praktik ini juga memungkinkan untuk dilakukan?

Saya kira iya. Kita ambil contoh media seperti Tirto.id, saya kira juga mempraktikannya. Tak sekadar mengumbar fakta tapi mencoba menggali makna.

Buku ini, saya kira masih relevan sebagai bacaan aktivis pers Islam, terutama pegiat media-media online Islam sebagai referensi bagi mereka yang juga tertarik ingin mempraktikkan jurnalisme subyektif. Pers Islam perlu melihat kemungkinan pencerdasan media dengan jurnalisme subyektif sebagai “Senjata”.

Tentu saja agar media yang dikelolanya tidak terjebak kepada gegap gempita politik praktis semata, tapi melangkah jauh yaitu berhasil memberikan makna terhadap sebuah peristiwa. []

Palmerah, 22 Februari 2017

*Pengamat media. Founder Kanetindonesia.com (Content Agency). WA:082123147969.

No comment for Praktik Jurnalisme Subyektif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Praktik Jurnalisme Subyektif

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | Founder  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan Ahok  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More

7 Standar Literasi Media Islam Online

Posted at April 27, 2017

 Prinsip produksi berita online .Verifikasi (tabayun) akurasi informasi dan cermat memeriksa kredibilitas narasumber (mengadopsi pakem ilmu jarh wa ta’dil) .Memastikan dipatuhinya kode etik jurnalistik... Read More


tesssssss