HOME
Home » Blog » Ketika Kompas dan Tempo Mengecilkan Deklarasi Risalah Istiqlal

Ketika Kompas dan Tempo Mengecilkan Deklarasi Risalah Istiqlal

Posted at September 19th, 2016 | Categorised in Blog

penyesatan-kompas

Para tokoh ormas dan politisi Islam beserta massanya  mendeklarasikan Risalah Istiqlal (18/9/2016). Sembilan risalah Istiqlal itu dibacakan Bachtiar Nasir dengan didampingi Rizieq Shihab, Didin Hafidudin, Amien Rais, dan Hidayat Nur Wahid. Isinya sebagai berikut:

  1. Kepada seluruh umat Islam agar merapatkan barisan untuk memenangkan Pemimpin Muslim yang lebih baik.
  2. Diserukan kepada seluruh Partai Pro Rakyat agar berupaya maksimal untuk menyepakati satu paket pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang Muslim untuk DKI Jakarta
  3. Diserukan kepada seluruh umat Islam agar beramai-ramai menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
  4. Diserukan kepada umat Islam untuk berpegang teguh kepada agamanya dengan hanya memilih calon Muslim dan haram memilih Non Muslim dan haram pula Golput.
  5. Diserukan kepada kaum Muslimin untuk menolak, melawan, dan melaporkan segala bentuk suap, baik itu berbentuk money politic maupun serangan fajar.
  6. Pentingnya Partai Politik Pro Rakyat untuk memaksimalkan daya yang mereka miliki, serta melibatkan seluruh potensi atau elemen umat untuk memenangkan pasangan Cagub-Cawagub yang disepakati umat
  7. Mengokohkan ukhuwah dan mewaspadai segala bentuk fitnah dan adu domba yang ditujukan kepada calon yang diusung oleh umat.
  8. Mengingatkan seluruh pengurus KPUD DKI, RT-RW yang ditugaskan sebagai KPPS untuk mengawal dan mengawasi jalannya Pilkada agar terwujud Pilkada DKI Jakarta yang jujur dan adil.
  9. Menghimbau kepada partai yang mendukung calon Non Muslim untuk mencabut dukungannya. Apabila tidak mengindahkan himbauan ini, maka diserukan kepada umat untuk tidak memilih partai tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana media menyorot peristiwa ini? Kita ambil Kompas dan Tempo yang selama ini memang dikenal sebagai media yang selalu “miring” ketika memberitakan aktivis dan politisi Islam.

Kompas menurunkan berita dengan judul “Ratusan Anggota Ormas Islam Gelar Shalat  Dhuhur Berjemaah di Masjid Istiqlal”.  Judul berita itu menuai banyak protes dari pembaca yang menilai Kompas sengaja mencoba mengecilkan peristiwa. Dalam berita itu juga tidak diberitakan inti persoalan dari acara itu yang menghasilkan deklarasi 9 Risalah Istiqlal, seperti  saya sebutkan di atas. Atas banyaknya protes, kemudian judul berita Kompas  diralat menjadi “Massa Sejumlah Ormas Islam Gelar Shalat Zuhur Berjemaah di Masjid Istiqlal”

Baik, dalam hal ini Kompas masih cukup punya itikat baik meralat berita yang keliru sekaligus menyesatkan itu. Ada media lain yang lebih parah,  peristiwa itu oleh Tempo dimasukan dalam kategori berita “Kriminal”. Judul beritanya “Ulama Deklarasikan 9 Risalah Istiqlal, Haram Pilih Nonmuslim”. Sejauh ini, Tempo memang sering kurang ajar dalam memberitakan peristiwa terkait dengan aktivitas umat Islam.

Saya tentu saja tidak sedang memperpajang masalah walaupun media tentu perlu terus kita kritik. Yang bisa saya simpulkan dari pembacaan sepintas performa dua media itu dalam menyikapi peristiwa yang sama, keduanya mencoba mengecilkan peristiwa, khusus Tempo, mereka mencoba membingkai peristiwa itu bukan sebagai sebuah solusi terbaik yang perlu diangkat, tapi lebih memandangnya sebagai problem (masalah) dengan memasukkan berita dalam kategori (rubrik) “Kriminal”.

Lantas, melihat fakta media demikian,  apa pelajaran yang bisa diambil? Tentu saja, umat Islam memang tidak perlu banyak berharap dengan media-media yang cenderung menyudutkan tersebut. Walaupun kritik tetap terus dilakukan atas performa media demikian. Tapi, alih-alih berharap mereka mau berubah, yang produktif tentu saja justru perlu merawat media-media Islam  agar lebih berperan lagi memberitakan kegiatan-kegiatan umat terutama menyebarkan substansi (inti) peristiwa, bukan sekadar “Kembang-Kembang” nya saja.

Dengan peran media-media Islam, diharapkan menjadi ujung tombak pencerahan umat dengan informasi berbasis fakta dan kebenaran bukan justru penyesatan. Demikian. (Yons Achmad/Pengamat Media/Founder KanetIndonesia.com/WA:082123147969).

 

1 Comment for Ketika Kompas dan Tempo Mengecilkan Deklarasi Risalah Istiqlal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Ketika Kompas dan Tempo Mengecilkan Deklarasi Risalah Istiqlal

Konsultan Media di Jakarta

Posted at July 7, 2017

Bagi Anda yang sedang mencari jasa konsultan media, khususnya di Jakarta, tidak salah lagi. Kami, Kanet Indonesia, adalah partner yang tepat bagi Anda. Kami... Read More

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | Founder  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan Ahok  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More


tesssssss