HOME
Home » Blog » Media Tak Seharusnya Menghakimi Jessica

Media Tak Seharusnya Menghakimi Jessica

Posted at August 16th, 2016 | Categorised in Blog

kasus jessica
“Itu Jessica harus dihukum mati” Komentar tetangga saya ketika menonton televisi ramai-ramai di warung kopi. Tetangga saya itu berkomentar demikian setelah beberapa kali menonton berita tentang Jessica yang diduga membunuh sahabatnya, Mirna. Kesimpulan yang didapatkannya setelah menonton berita, Jessica bersalah karena telah membunuh Mirna dengan kopi yang sudah dicampur racun Sianida. Masalahnya adalah, kenapa tetangga saya sampai berkesimpulan begitu?

Padahal sidang masih berjalan dan pengadilan belum memutuskan apakah Jessica bersalah atau tidak. Dugaan saya, tetangga saya itu kerkesimpulan demikian karena terpapar berita yang barangkali memang mengarahkan atau telah membangun semacam opini publik kalau Jessica bersalah sebelum pengadilan memutuskan. Kalau ini benar, maka media sebenarnya sudah menyalahi prinsip jurnalistik. Mengabaikan asas praduga tak bersalah, bahkan sudah melangkah lebih jauh, melakukan penghakiman.

Larangan demikian bisa dengan jelas kita baca dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) KPI Tahun 2012 Pasal 22 Ayat (2), (3) dan (4) serta Standar Program Siaran (SPS) KPI Tahun 2012 Pasal 40 huruf a dan c.
Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa media, khususnya dalam program jurnalistik yang dipublikasikannya, diwajibkan menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik (akurat, berimbang, adil, tidak menyesatkan serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini pribadi), menerapkan prinsip praduga tak bersalah dalam peliputan ataupun pemberitaan, tidak melakukan penghakiman, serta menghargai proses hukum yang sedang berlangsung.

Memang, ketika pada akhirnya Jessica diputuskan bersalah, barangkali efeknya tak terlalu besar. Tapi bayangkan misalnya kemudian diputuskan bahwa Jessica tidak bersalah. Bayangkan pula hal ini terjadi tak hanya dalam kasus Jessica, tapi kasus-kasus lain yang sejenis. Tentu saja, pihak terduga yang akhirnya diputuskan tidak bersalah akan sulit kembali menjadi pribadi sebelum kasus diberitakan secara besar-besaran di media. Sang terduga keburu dihakimi media dan khalayak sekaligus. Citra dirinya keburu tercoreng, mukanya juga begitu mudah dikenali karena berulang-ulang disorot kamera televisi. Bayangkan yang menjadi terduga itu kita, keluarga kita, atau sahabat-sahabatt dekat kita.

Dengan mempertimbangkan efek buruk penghakiman demikian, saya kira media perlu taat pada aturan KPI itu. Dan khalayak juga perlu belajar untuk tak mudah menghakimi seseorang, apalagi hanya berdasar penggiringan opini media. (Yons Achmad/Pengamat media/Founder KanetIndonesia.com).

1 Comment for Media Tak Seharusnya Menghakimi Jessica

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Media Tak Seharusnya Menghakimi Jessica

Konsultan Media di Jakarta

Posted at July 7, 2017

Bagi Anda yang sedang mencari jasa konsultan media, khususnya di Jakarta, tidak salah lagi. Kami, Kanet Indonesia, adalah partner yang tepat bagi Anda. Kami... Read More

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | Founder  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan Ahok  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More


tesssssss