HOME
Home » Blog » Begini Cara Kompas “Habisi “ Erdogan

Begini Cara Kompas “Habisi “ Erdogan

Posted at July 23rd, 2016 | Categorised in Blog

HDRESIM.NET

Erdogan gagal dikudeta oleh militer. Rakyat  Turki turun ke jalan-jalan mendukung Erdogan.  Pasca kudeta gagal itu, banyak sekali opini dan pemberitaan yang beredar. Salah satunya berusaha untuk mencitrakan jelek/buruk Erdogan, pemimpin “Islamis” Turki yang telah berhasil  membawa negaranya menjadi negara modern dan sejahtera. Mulai dari tudingan  bahwa kudeta itu  rekayasa Erdogan semata, mengadu domba Erdogan dengan Gulen, tuduhan Erdogan yang otoriter dan suka memberangus media (pers)  sampai klaim kudeta itu gagal karena bantuan  informasi Amerika. Tapi, sejauh ini, opini dan pemberitaan tak mampu mengubah simpati kepada Erdogan.

Bagaimana dengan media di Indonesia? Kita ambil contoh media besar seperti Kompas. Kalau kita cermati dan baca lebih dalam, pada beberapa pemberitaan, rupanya Kompas terkesan tak rela Erdogan dielu-elukan, terutama oleh kalangan muslim di Indonesia. Lalu, apa yang ditempuh? salah satunya dengan memublikasikan berita miring dan cenderung memojokkan Erdogan. Kita ambil dua contoh berita yang disiarkan Kompas.

Berita pertama  Rabu 20 Juli 2016 berjudul “Pasca Percobaan Kudeta, Erdogan Belum Stop Balas Dendam”. Saya tak akan mengulas berita itu, karena sudah di hapus oleh Kompas karena banyaknya protes yang dilayangkan di kolom komentar. Tapi, kita bisa catat, bagaimana Kompas ingin ikut-ikutan media barat “Habisi” Erdogan, namun lagi-lagi gagal. Masyarakat, terutama kalangan Islam tak bisa lagi dibodohi dengan pemberitaan semacam itu.  Tapi, apakah Kompas berhenti memublikasikan berita yang tendensius itu? Tidak.

Kompas.com  21 Juli 2016 kembali menurunkan berita “ Antara Erdogan, Istana Presiden dan Istrinya”. Ada beberapa catatan saya mengenai berita ini:

Pertama. Dipembukaan berita ditulis “Kehidupan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memang menarik untuk diikuti. Selain sosoknya yang kontroversial, juga hal-hal bersifat material yang melekat padanya. Salah satunya adalah istana presiden”.  Dari awal, sudah dicitrakan bagaimana sosok Erdogan sebagai sosok yang matrealistis, suka kemewahan.

Kedua. Selanjutnya ditulis “Istana presiden ini baru diresmikan pada 2014 silam dan dilaporkan menelan biaya pembangunan hingga 350 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 4,6 triliun”.  Lagi-lagi dikesankan bagaimana Erdogan suka kemewahan. Tapi apakah informasi ini valid, dari mana sumber datanya? Kita tidak pernah tahu, kemungkinan hanya asumsi dan kebohongan belaka.

Ketiga. Ditulis  “Bangunan ini dinilai para ahli ekologi sebagai perusak lingkungan karena berada di atas tanah hutan lindung” Siapakah mereka ahli ekologi itu, apakah benar istana berada di hutan lindung? Kita tidak pernah tahu, dan itu tentu boleh jadi hanya asumsi belaka

Keempat.  Ditulis “Kemewahan istana presiden ini dinilai ironis bagi kehidupan masyarakat Turki saat ini. Para pengungsi Suriah tumpah ruah di perbatasan dan ratusan lainnya tewas dalam serangan teror serta kekerasan politik” Siapa yang sebenarnya ironis, berita inilah yang ironis, kenyataanya, Turki merupakan negara yang terdepan dalam memanusiakan pengungsi, terutama mengurus arus pengungsi dari Suriah. Lagi-lagi, ilusi ingin disampaikan lewat berita ini.

Kelima. Ditulis “Teranyar, kudeta militer kemarin, walaupun gagal, menjadi bukti betapa tak stabilnya kondisi Turki” Dikesankan Turki sebagai negara tak stabil, mungkin iya, tapi sejauh ini walaupun serangan bom bertubi-tubi di Turki, sampai puncaknya pada kudeta yang gagal itu, Erdogan berhasil membawa Turki tetap stabil. Ini fakta yang tak bisa dibantah.

Keenam. Tak cukup citrakan buruk Erdogan. Istrinya pun disorot. Dikatakan “Emine tak segan-segan menghabiskan 10.000 poundsterling atau setara dengan Rp 172 juta untuk berbelanja di Eropa dan menghabiskan 1.500 poundsterling (Rp 26 juta) hanya untuk satu kilogram teh”  ditambah lagi “Pernah suatu ketika Emine menutup satu mal di Brussels, Belgia, agar ia tidak terganggu oleh orang lain ketika sedang mencari barang-barang rancangan desainer kenamaan dunia. Selain itu, ia juga pernah menghabiskan 37.000 poundsterling atau senilai Rp 639 juta hanya untuk sekali belanja di pasar antik Polandia”.  Entahlah, mungkin sang penulis berita sudah kehabisan bahan, dengan cerita-cerita demikian yang tentu saja, karena tak ada sumber valid yang mengatakannya, tentu saja kita tak bisa langsung percaya begitu saja.

Ketujuh. Ditulis “Sebagai informasi, berdasarkan riset dari Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Universitas Bahcesehir, dua dari tiga anak di Turki, hidup dalam kemiskinan menurut standar Eropa” Oke, mungkin kalau berdasar penelitian kita mungkin percaya. Tapi, dalam urusan politik bayangkan bagaimana performa lembaga-lembaga survei di tanah air? Mungkin beberapa bisa dipercaya, tapi apakah terbebas dari tendensi politik tertentu? Tidak.  Begitu juga lembaga penelitian di Turki. Tak peduli bagaimana kerja-kerja Erdogan menyejahterakan rakyatnya.  Tapi, ada penelitian yang miring terhadap pemerintahan Erdogan, itu sudah cukup untuk bahan “Habisi” Erdogan. Walau, ya boleh dibilang cukup dipaksakan.

Lalu, apakah sumber berita itu dari Kompas semata? Ternyata tidak, Kompas hanya meramunya dari  Theguardian.com dan Metro.co.uk. Tapi yang menarik. Kalau yang pertama berita yang ditampilkan masuk rubrik “Internasional” Berita terakhir masuk rubrik “Properti”. Sungguh sebuah strategi “halus”  Kompas, untuk ikut andil dalam “menghabisi” Erdogan. Dan saya kira, Kompas tidak hanya berhenti sampai di sini. Apa boleh buat, kita harus kawal terus berita dan opini. Darimanapun, yang baik sengaja maupun tidak, intinya ingin memojokkan tokoh-tokoh Islamis, baik di luar negeri maupun di tanah air. (Pengamat media, tinggal di Jakarta. Founder Kanetindonesia.com. WA 082123147969).

 

No comment for Begini Cara Kompas “Habisi “ Erdogan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Begini Cara Kompas “Habisi “ Erdogan

Konsultan Media di Jakarta

Posted at July 7, 2017

Bagi Anda yang sedang mencari jasa konsultan media, khususnya di Jakarta, tidak salah lagi. Kami, Kanet Indonesia, adalah partner yang tepat bagi Anda. Kami... Read More

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | Founder  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan Ahok  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More


tesssssss