HOME
Home » Blog » Jurnalisme Basa-basi

Jurnalisme Basa-basi

Posted at June 17th, 2016 | Categorised in Blog

media

“Budaya membaca koran sambil minum kopi pagi hari masih sulit untuk digeser oleh gadget yang lebih individualistik dan mahal.”

KECANGGIHAN teknologi informasi menyempitkan dunia bagai jadi satu atap rumah. Peristiwa apa pun di mana pun di satu belahan dunia, segera tersebar di belahan dunia lain secara real time. Teknologi digital memungkinkan semua informasi tersedia seketika dalam genggaman tangan.

Informasi jadi komoditas yang bernilai ekonomi, tanpa mengenal batas-batas negara. Semua tak lepas dari peran jurnalis yang mengaktualisasi diri lewat jurnalisme, yang diimplementasikan dalam karya jurnalistik. Kegiatan itu dimulai dari mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, sampai menyampaikan informasi.

Bentuknya bisa tulisan, suara dan/atau gambar, data, grafik atau pun lainnya. Medianya bisa cetak, elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Tinggal publik yang akan menilai mana yang benarbenar layak sebagai karya jurnalistik.

Atau mungkin publik tidak terlalu memedulikannya, asal kebutuhan akan informasi terpenuhi. Meski dengan kualitas yang patut untuk dipertanyakan dan diperdebatkan. Jurnalistik sebagai implementasi jurnalisme saat ini memang beragam.

Maraknya jurnalis amatir lewat internet atau media online memunculkan citizen jurnalism. Bisa jadi hanya sekadar media untuk menyalurkan hobi orang awam dalam dunia jurnalistik. Mereka berekspresi dengan justifikasi kebebasan untuk berpendapat, sebagai hak asasinya.

Efeknya bisa muncul jurnalisme alkohol yang menurut kamus isinya hanya isapan jempol, tanpa mengandung kebenaran. Kayak orang mabuk alkohol yang bicaranya meracau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Bisa pula muncul jurnalisme kuning yang sengaja mengeksploitasi sesuatu untuk menarik minat pembaca, tanpa disertai fakta akurat.

Padahal sejatinya, jurnalisme mengandung idealisme dan ideologi sebagai penyedia informasi untuk memberdayakan masyarakat agar bisa hidup lebih baik. Para jurnalis juga terikat pada kode etik dalam menyajikan informasi. Jurnalis harus menjunjung tinggi kebenaran dan utamanya loyal pada publik serta disiplin dalam verifikasi.

Mampu pula menjaga independensi terhadap nara sumber dan menjaga informasi agar komprehensif dan proporsional. Ketika kode etik jurnalistik hanya jadi pajangan, yang tersisa hanyalah karya jurnalistik abal-abal.

Simbiosis Mutualisme

Beragam media yang ada saat ini memberikan alternatif pada masyarakat untuk memilih. Booming media online yang lebih praktis, cepat, dan murah menjadi pesaing berat media konvensional seperti koran sebagai media cetak tertua.

Tidak terelakkan kalau readership (pembaca) dan sekaligus tiras (oplah) cenderung turun atau stagnan. Meski juga harus dilihat realita fanatisme masyarakat terhadap media koran yang punya keunggulan khusus yang tidak bisa tergantikan.

Budaya membaca koran sambil minum kopi pagi hari masih sulit untuk digeser oleh gadget yang lebih individualistik dan mahal. Kalangan tertentu rela membaca koran di pajangan boks sambil berdiri dan bergantian sekadar untuk tahu informasi.

Bahkan koran yang dapat diketemukan di mana pun dan kapan pun, kendati informasinya sudah basi. Tidak masalah bagi mereka out of date atau up to date. Kalau belum pernah baca anggapan informasinya tetap baru bagi pembaca. Semboyan selembar koran seribu pembaca masih dapat ditemukan dalam realita di masyarakat.

Apalagi untuk koran karismatik yang telah lama punya readership setia dan fanatik. Jurnalis saat ini sangat jarang yang ke sana-ke mari tidak menentu untuk mengejar berita. Dengan media komunikasi yang canggih dan kebutuhan kadang bisa jadi terbalik, sumber berita yang mencari jurnalis.

Simbiosis mutualisme saling menguntungkan jadi tidak terhindarkan. Di satu sisi jurnalis butuh bahan informasi, sisi lain sumber berita butuh publikasi aktivitasnya. Kolega yang luas dari para jurnalis atau wartawan memungkinkan fenomena itu terjadi.

Terbatasnya ruang untuk memuat semua kejadian yang diminta pada hari yang sama, menimbulkan problem tersendiri. Pasti terjadi kekecewaan sumber berita karena aktivitasnya sudah jadi informasi kadaluwarsa ketika dimuat pada hari-hari berikutnya.

Atau ketika dimuat pun hanya sekadar basa-basi untuk menjaga agar relasi tetap terjaga baik dengan para kolega. Sindiran jurnalisme basa-basi bisa merebak jadi virus karya jurnalistik, atau hanya dicap sebagai karya publisistik demi kepentingan publisitas semata.

Apa pun yang terjadi, satu hal yang perlu diingat bahwa sebenarnya tidak ada karya jurnalistik basa basi atau pun basi, hanya karena informasinya baru tersebar relatif lebih lama dari waktu kejadian yang sebenarnya. (Sumber SM 14 Juni 2016)

Edi Indarto, wartawan Suara Merdeka di Semarang

Tags :

No comment for Jurnalisme Basa-basi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Jurnalisme Basa-basi

Konsultan Media di Jakarta

Posted at July 7, 2017

Bagi Anda yang sedang mencari jasa konsultan media, khususnya di Jakarta, tidak salah lagi. Kami, Kanet Indonesia, adalah partner yang tepat bagi Anda. Kami... Read More

Narasi Etis Opini

Posted at June 23, 2017

KEPADA siapakah mayoritas ruang pemberitaan kita berikan dalam tarik ulur Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Komisi Pemberantasan Korupsi? Pertanyaan semacam ini menguji sikap... Read More

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma !

Posted at May 18, 2017

Menyetankan Habib Rizieq Lewat Media, Percuma ! :Yons Achmad (Pengamat media, Founder Kanet Indonesia) Siapa tokoh muslim Indonesia yang dikenal dengan nahi munkarnya? Jawabnya... Read More

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media

Posted at May 16, 2017

Stop Jadikan Ahok Penglaris Media :Yons Achmad (Pengamat Media | Founder  Kanet Indonesia)   Apakah setiap media yang beritakan Ahok  berarti bentuk dukungan? Jawabannya... Read More

Dari Buruh Media Ke Pemilik Media

Posted at May 1, 2017

Hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi refleksi tersendiri bagi buruh media. Boleh-boleh saja menuntut kenaikan upah. Seperti yang juga dilakukan oleh... Read More


tesssssss